Istilah ‘Syaikh’ dan ‘Ustadz’

Bismillah,

Bagi kelompok yang sukanya memecah belah umat, perkara kecil pun bisa menjadi senjata untuk mengadu domba dan menyalahkan ahlussunnah. Seperti halnya beberapa kelompok yang mempermasalahkan kata-kata “Syaikh dan Ustadz” Mari kita baca terlebih dahulu, jangan asal menanggapi.

Mengenal istilah “Syaikh”

Istilah “syaikh” merupakan penggunaan yang sangat masyhur, khususnya dizaman kita sekarang ini. Biasanya gelar ini diberikan kepada seseorang yang dihormati, dan dianggap memiliki keutamaan dan kelebihan dalam pengetahuan agamanya, meskipun terkadang pada hakekatnya tidak demikian. Seperti penyebutan “Syaikh Sayyid Quthub, Syaikh Umar Tilmisani, Syaikh Sa’id Hawwa”, dan yang lainnya dari penyebutan Al-Ikhwanul Muslimun dalam menghormati tokoh-tokohnya, merupakan hal yang sangat masyhur dari mereka. Namun bukan berarti yang menggunakan istilah ini dikalangan Ahlus sunnah Wal-jama’ah, dihukumi bahwa dia mengikuti kebiasaan Al-Ikhwanul Muslimun atau telah terjatuh kedalam hizbiyah.

Dikalangan Jama’ah Tabligh pun demikian, seringkali panggilan “Syaikh” diucapkan kepada sesama mereka, namun bukan berarti siapa yang menggunakannya dikalangan ahlus sunnah, berarti telah menyerupai kebiasaan jama’ah tabligh atau telah terjatuh kedalam hizbiyah.

Dikalangan Shufiyyah, juga istilah “Syaikh” merupakan istilah yang sangat populer untuk guru-guru atau yang mereka anggap sebagai Wali. Bahkan mereka menyebut Ibnu Arabi dengan sebutan “Asy-Syaikhul Akbar”. Namun bukan berarti jika istilah ini digunakan dikalangan ahlus sunnah, kemudian divonis tasyabbuh dengan mereka atau telah terjatuh kedalam bid’ah dan hizbiyah.

Sebab jika demikian, begitu banyak ulama Ahlus sunnah yang terjatuh dalam penyimpangan karena seringnya mereka menyebut istilah ini kepada orang-orang yang mereka hormati.

Mengenal istilah “Ustadz”

Lalu bagaimana dengan istilah ustadz? Nah, inilah letak permasalahannya, yang dengannya sebagian ahlus sunnah dituduh mengikuti cara-cara al-ikhwanul muslimun dalam memanggil para da’inya. Benarkan demikian?. Mari kita mengikuti pembahasan berikut ini:

-Suatu ketika, Imam Muslim bin Al-Hajjaj Rahimahullah mendatangi Imam Bukhari Rahimahullah lalu mencium diantara kedua mata Beliau, dan berkata :

دَعْنِي حَتَّى أُقَبِّلَ رِجْلَيْكَ يَا أُسْتَاذَ الأُسْتَاذِيْنَ وَسَيِّدَ المُحَدِّثِيْنَ وَطَبِيْبَ الحَدِيْثِ فِي عِلَلِهِ

“Ijinkan aku mencium kedua kakimu wahai “ustadz-nya para ustadz”, pemimpin para muhaddits, dan dokternya hadits dalam meneliti penyakit-penyakitnya.”

(Tarikh Baghdad: 13/102, taghliq at-ta’liq: 5/429, ma’rifatu uluumil hadits:114, An-Nukat Ala Ibnis shalaah: 2/717)

Perhatikan ucapan Imam Muslim “Ustadz-nya para ustadz” yang Beliau tujukan kepada Imam Bukhari, sangat nampak menunjukkan bahwa istilah “ustadz” dijaman Beliau merupakan istilah yang sangat populer, sehingga Beliau menggelari Imam Bukhari dengan sebutan “ustadz”. Makna dari ucapan Imam MuslimRahimahullah– adalah: “orang- orang yang disebut ustadz itu banyak, akan tetapi Engkau wahai Imam Bukhari adalah ustadz yang terbaik dalam hal ilmu dibanding ustadz- ustadz lainnya.”

Imam Muslim wafat pada tahun 261 H, bulan Rajab, hari Ahad sore, dan dimakamkan pada keesokan harinya. Bandingkan dengan awal mula didirikannya Al-Ikhwanul Muslimun ditahun 1347 H, mungkinkah Imam Muslim –Rahimahullah– atau Imam Bukhari –Rahimahullah– pernah terlibat dalam pergerakan Al-Ikhwanul Muslimun?, Orang yang berakal tentu saja akan menjawab: ada- ada saja…..

Tahukah anda dengan kitab “Ulumul hadits” karya Abu Amr Ibnus Shalaah –Rahimahullah Taala, yang lebih dikenal dengan nama “Muqaddamah Ibnis Shalaah”, bagi seorang penuntut ilmu, terkhusus yang menggeluti ilmu mustalah hadits tentu kitab ini bukanlah kitab yang asing baginya. Pada halaman 144, tatkala Beliau menjelaskan tentang sahnya riwayat perawi yang sedang menulis sementara Syaikh Muhaddits sedang membacakan hadits riwayatnya, Ibnus Shalaah berkata:

“…dan Al-Ustadz Abu Ishaq Al-Isfarayini Al-Faqih Al-Ushuli….”

Ibnus Shalah meninggal pada tahun 643H, kurang lebih 800 tahun sebelum pendiri Al-Ikhwanul Muslimun lahir kedunia ini.

Kenalkah anda dengan kitab “Al-Ba’its Al-Hatsits Syarah Ikhtishar Uluumil hadits”, karya Al-Hafizh Al-Mufassir Ibnu Katsir Rahimahullah?, seorang pemula dalam menuntut ilmu hadits tentu saja mengenal kitab yang sangat masyhur ini. Ketika Al-Hafizh Ibnu Katsir membahas tentang hukum “Mursal shahabah” , Beliau mengatakan:

“…dan mazhab ini dihikayatkan pula dari Al-Ustadz Abu Ishaq Al-Isfarayini….. “

(Al-Ba’its:58).

Al-Hafizh Ibnu Katsir meninggal tahun 774, lebih 600 tahun, jauh sebelum munculnya pergerakan Al-Ikhwanul Muslimun.

As-Suyuthi, dalam muqaddimah kitabnya “Al-Itqan fii Uluumil qur’an” menyebut salah seorang gurunya yang bernama Abu Abdillah Muhyiddin Al-Kafiji dengan sebutan “Ustadz al-ustadzin”, yang artinya ustadznya para ustadz.

(Al-Itqan,As-Suyuthi:1/4)

Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi Rahimahullah, meninggal dimalam jum’at diwaktu sahur, tanggal 19 jumadal Ula, tahun 911 H, 400 tahun lebih, jauh sebelum didirikannya Al-Ikhwanul Muslimun. Kapankah As-Suyuthi Rahimahullah terlibat dalam gerakan Al-Ikhwanul Muslimun, sehingga Beliau memanggil gurunya dengan penyebutan ustadz?

Sesungguhnya masih banyak dan masih banyak lagi penyebutan istilah ustadz yang biasa digunakan oleh para ulama terdahulu, jauh sebelum Al-Ikhwanul Muslimun terlahir ke dunia ini. dan apa yang kami sebutkan ini ibarat setetes air bila dibandingkan dengan air laut yang demikian luas. Kalaulah kami harus menyebutkan dari setiap kitab penggunaan para ulama terhadap istilah ini, mungkin kami membutuhkan dua jilid kitab untuk menyelesaikannya, bahkan mungkin lebih…..

Hal-hal yang kami sampaikan tentunya sudah jelas, bahwa penukilan kata “Syaikh” atau “ustadz” dikalangan ahlussunnah wal jamaah adalah bukan merupakan hal yang tidak ada contohnya dari ulama.

Sebagai faedah…

Berkata Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah:

لما استعمل الرواة الكذب استعملنا لهم التاريخ

“Tatkala para perawi menggunakan cara dusta, kami menggunakan “perhitungan waktu” untuk mereka.”

(Al-Kifayah fii Ilmir Riwayah,Al-Khathib Al-Baghdadi:119)

Dengan melihat perhitungan waktu, tersingkaplah kedustaan sebagian kaum, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran darinya.

Wallahul Muwaffiq.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s